Gado-gado Encim Palmerah

Gado-gado Encim Palmerah

GADO-GADO adalah salah satu makanan rakyat yang populer. Wujudnya berupa sayur-sayuran yang direbus dan dicampur jadi satu, dengan bumbu atau saus dari kacang tanah yang dihaluskan, disertai irisan telur, dan di atasnya ditaburi bawang goreng. Sedikit emping goreng atau kerupuk kadang ditambahkan.

Makanan ini dapat disantap begitu saja seperti salad dengan bumbu/saus kacang, tapi juga bisa dimakan bersama nasi putih, atau terkadang disajikan dengan lontong.

Menemukan warung gado-gado tidaklah sulit, termasuk di sudut-sudut kota Jakarta, dari warung kecil hingga restoran yang memiliki beberapa cabang. Tidak sedikit pula yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun lamanya dalam berjualan gado-gado.

Imawati (74) adalah salah satu dari sekian penjual gado-gado yang tetap bisa mempertahankan usahanya selama puluhan tahun. Wanita asal Cibinong, Bogor, ini sudah berjualan gado-gado sejak tahun 1966 hingga sekarang di Palmerah, Jakarta.

Hingga kini, meski dengan tubuh yang semakin bongkok dimakan usia, Imawati masih tetap meracik sendiri gado-gado yang dipesan para pelanggannya. “Habis siapa lagi yang melayani kalau bukan saya? Anak-anak saya pada kerja semua. Sewaktu mereka masih kecil memang suka membantu saya, tapi sekarang paling hanya pembantu saja,” ujarnya.

Sayuran di dalam gado-gado yang diracik Imawati terdiri dari nangka muda, labu siam, kacang panjang, tauge, kol, kangkung, yang dipotong kecil-kecil. Porsinya tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan gado-gado lainnya. Dan ketika Warta Kota mencicipinya, dari segi bumbu boleh dikatakan tidak terlalu medok.

Es Cendol
Menurut Imawati, bumbu kacangnya sejak dulu dibuat sendiri, berupa campuran kacang tanah dan kacang mede. Perbandingannya 3:1. Misalkan kacang tanahnya 3 kg maka kacang medenya hanya 1 kg. Maklumlah untuk mendapatkan kacang mede tidaklah murah.

“Sekarang ini membuat bumbunya tidak banyak, paling cuma dua baskom. Soalnya tenaga sudah tidak ada lagi. Dan lagi saingan semakin banyak. Belanja bahan juga mahal,” tutur wanita yang oleh sebagian pelanggannya dipanggil Encim tersebut.

Yang membedakan gado-gado ini dari gado-gado lain, selain diberi taburan emping, juga terdapat kerupuk merah yang menjadi ciri khasnya. Untuk gado- gado dengan lontong atau nasi dipatok harga Rp 13.000. Kalau tanpa nasi/lontong harganya Rp 12.000.

Selain gado-gado, Imawati juga menyediakan es cendol. Cendol itu juga diolah sendiri tanpa bahan pengawet. Segelas es cendol dihargai Rp 5.000. Selain itu ada emping besar yang berasa manis dan asin, dikemas dalam plastik.

Warung gado-gado milik Imawati cukup sederhana, hanya kios berukuran kurang lebih 3 m x 4 m, dengan meja panjang letter L. Di dekat pintu masuk, Imawati meracik gado-gadonya. Lokasi warung tidak jauh dari Pasar Palmerah. Sedangkan di depan warung hanya bertuliskan Gado-Gado Palmerah. Buka pukul 09.30-15.00.

Pelanggan Turun Temurun
Pada awalnya Imawati sempat berjualan di depan rumah mertuanya, sebuah rumah besar atau orang dulu menyebutnya rumah gedong, yang sekarang menjadi perkantoran. Ketika akhirnya rumah itu dijual, Imawati pun bergeser ke tempat yang sekarang.

Keputusannya untuk berjualan gado-gado semula bertujuan untuk membantu keuangan keluarga. Kala itu sang suami tidak bekerja, sedangkan mereka harus menghidupi empat anak yang masih kecil.

Penggemar dan pelanggan gado-gado Imawati bisa dibilang turun temurun. Bisa dikatakan mereka punya kenangan sendiri-sendiri terhadap gado-gado itu. Salah satu pelanggan setia adalah Tjamboek (40), karyawan swasta yang kini tinggal di daerah Kebayoran Baru.

“Dari tahun 1974 saya sering diajak mama atau papa, bahkan dititipkan ke empe (kakek –Red) di Palmerah. Kalau siang saya sering dibelikan gado-gado. Salah satunya Encim Gedong tapi harganya lebih mahal sedikit dibandingkan Nyai Seha yang juga berjualan di Palmerah,” katanya.

Ketika ditanya soal rasa gado-gadonya, Tjamboek mengatakan bahwa gado- gado Encim (begitu ia menyebut gado-gado yang dibuat Imawati) tidak pernah berubah hingga sekarang. Penampilannya ajek, termasuk emping dan kerupuk merah yang tetap ada, serta selalu memakai nangka muda rebus. Harganya pun tergolong mahal sejak dahulu.

Menurut Tjamboek, bisa dikatakan seminggu dua kali dia membeli gado-gado Imawati alias Encim Gedong itu. Sekali beli dia biasa memesan hingga lima bungkus untuk keluarganya. Setiap kali mampir ke warung tersebut menjadi ajang untuk membicarakan banyak hal.

“Bahkan Encim tahu siapa-siapa saja pelanggannya yang sudah wafat. Pasti dia akan mengenang kebaikan dari yang wafat. Apalagi orang Tionghoa yang sudah lama tinggal di Palmerah pasti sudah saling mengenal,” tutur Tjamboek. (WARTAKOTA/Dian Anditya Mutiara)

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: